Anjuran Untuk Memperbanyak Ibadah Sunnah

Sebagian dari kaum muslimin ada yang tidak peduli dengan ibadah-ibadah sunnah. Dia tidak mau mengamalkan kecuali ibadah yang wajib saja dan enggan memperbanyak ibadah yang hukumnya sunnah. Yang demikian itu, di antara sebabnya karena mereka berkeyakinan bahwa ibadah yang dibebankan Allah  ta’ala kepada mereka hanyalah ibadah-ibadah yang wajib saja dan itu sudah sangat mencukupi. Padahal, pada hakikatnya seorang muslim sangat butuh untuk menambah atau memperbanyak amal shalihnya khususnya amalan-amalan yang hukumnya sunnah.

Maka itu pada edisi kali ini, kami akan menjelaskan perlunya kita memperbanyak amalan sunnah, sebagaimana akan disebutkan pula beberapa alasan yang mendorong kaum muslimin agar mereka memperbanyak amalan sunnah.

Alasan pertama: Agar seorang muslim memiliki tabungan amal kebaikan yang melimpah pada hari kiamat yang bisa ia gunakan untuk menutupi hak-hak orang lain yang belum tertunaikan.

Seseorang itu, sekuat apapun ia berusaha untuk tidak melakukan dosa, kesalahan dan kezhaliman kepada orang lain, pasti ia tidak akan berhasil. Meskipun ia mengetahui bahwa dirinya amat sedikit melakukan kesalahan, namun kesalahan dan kezhaliman yang tidak ia ketahui bisa begitu banyak ia lakukan tanpa ia sadari.

Di hari pembalasan kelak, ketika manusia diperhitungkan amalannya dan ia memiliki catatan buruk terhadap saudaranya, maka hal itu tidak bisa dibayar dengan logam uang atau emas murni, yang ada adalah balasan dengan kebaikan dan keburukan.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabatnya:

أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟  قَالُوْا: الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِيْ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِيْ قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّار.

Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Mereka menjawab: Orang yang bangkrut dari kami adalah yang tidak memiliki dirham dan barang-barang. Lalu beliau bersabda: Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan amalan shalat, puasa dan zakat, ia datang namun pernah mencela ini, pernah menuduh itu, pernah makan harta ini, pernah mengucurkan darah itu, dan ia pun pernah memukul yang lainnya lagi. Lalu orang yang ini diberikan sebagian dari kebaikannya dan yang itu pun diberi dari sebagian kebaikannya. Apabila kebaikannya habis sebelum tanggungannya selesai, maka keburukan orang-orang itu akan diambil lalu ditimpakan kepada dirinya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim)

Setelah membaca hadits ini dapat kita simpulkan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi kezhaliman dan menyelesaikannya di dunia sebelum datang hari kiamat. Dan di antara cara untuk menjauhkan diri agar tidak temasuk dari orang-orang yang bangkrut adalah dengan memperbanyak amal shalih, khususnya amalan sunnah.

Alasan kedua: Karena amalan yang baik dapat menghapus amalan yang buruk.

Hal ini sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan di dalam al-Qur`anul karim:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (QS. Hud: 114)

Ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu yang berbunyi:

أَنَّ رَجُلاً أَصَابَ مِنِ امْرَأَةٍ قُبْلَةً، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (( وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ، إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ )). فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، أَلِيْ هَذَا؟ قَالَ: لِجَمِيْعِ أُمَّتِيْ كُلِّهِمْ.

Ada seorang laki-laki yang pernah mencium seorang wanita (yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut. Lalu Allah azza wa jalla menurunkan firman-Nya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. (QS. Hud: 114).” Lalu orang itu bertanya: ya Rasulullah, apakah ini khusus untukku? Beliau menjawab: Untuk umatku seluruhnya. (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menasihati kita semua untuk melakukan hal tersebut. Beliau bersabda:

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik niscaya ia akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang mulia. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dll. dengan derajat hasan)

Seorang manusia tidak pernah terlepas dari berbuat perbuatan yang buruk, maka itu untuk dapat menghapuskan perbuatan buruk tersebut hendaklah ia memperbanyak amal shalih yang berupa amalan-amalan sunnah. Semakin banyak ia melakukan amalan sunnah maka semakin banyak pula tabungan yang ia siapkan untuk menghapus amalan-amalan yang tidak baik.

Alasan ketiga: Menggapai kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sesungguhnya manfaat teragung dan termulia dari memperbanyak amalan sunnah adalah bahwasanya amalan tersebut dapat mendatangkan kecintaan dari Allah ta’ala kepada hamba tersebut.

Berkaitan dengan hal ini Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits di dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ.

Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang lebih aku cintai dari pada amalan yang Aku wajibkan atasnya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga aku mencintainya. (HR. Bukhari)

Hadits di atas menerangkan bahwa seorang hamba yang memperbanyak amalan sunnah akan dicintai Allah ta’ala. Dan tentu saja, bagi orang yang dicintai Allah surgalah tempatnya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Amin.

Alasan keempat: Amalan sunnah dapat melengkapi dan menyempurnakan kekurangan yang ada pada amalan wajib.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوْا هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيْضَةِ، ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ.

Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali akan diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka sungguh ia telah beruntung dan sukses. Namun apabila shalatnya rusak maka sungguh ia telah gagal dan merugi. Apabila amalan wajibnya ada yang kurang maka Rabb azza wa jalla berfirman: Perhatikanlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah, untuk menyempurnakan amalan wajib yang kurang, kemudian seluruh amalannya diperhitungkan seperti itu. (HR. Tirmidzi dengan derajat shohih)

Oleh karena seseorang terkadang lalai dari mengerjakan amalan wajib, maka hendaklah ia memperbanyak amalan sunnah, yang dengannya dapat dijadikan sebagai penyempurna kewajiban-kewajiban yang terlewatkan.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk memperbanyak amalan-amalan sunnah hingga akhir hayat. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s