Non Muslim pun Mendoakan Kebaikan Untuk Beliau

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّه الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيْلَ إِنَّ اللَّه يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ فَيُنَادِيْ جِبْرِيْلُ فِيْ أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوْهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي اْلأَرْضِ

Apabila Allah mencintai seorang hamba, Ia akan menyeru Jibril bahwa sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia, sehingga Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit bahwa sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia, maka penduduk langit pun mencintainya, dan ia pun diterima (dicintai) di muka bumi. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Nasrani Mencium Tangan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dan Mengamini Doa Beliau

Abu Yahya al-Huwaini bertutur:

Beberapa hari yang lalu, ada seorang laki-laki meminta izin kepadaku untuk membesuk ayahku di rumah sakit. Ketika masuk, orang itu mengucapkan salam kepada beliau dan mencium tangannya. Ketika hendak keluar ia berkata: “Aku seorang nasrani, namaku george.” Akupun berterima kasih kepadanya karena telah mengunjungi ayahku.

Selang beberapa saat, ia masuk lagi untuk kedua kalinya. Aku terkejut, sebab kali ini ia membawa masuk istrinya yang bersolek dan tidak berhijab (tidak berpakaian syar’i). Aku terheran-heran melihatnya, ia berkata: “Ini istriku, ia sangat ingin masuk menemui Syaikh.”

Laki-laki itu berkata kepada ayahku: “Demi Allah, wahai Syaikh, kami begitu mencitaimu, kami doakan semoga anda diberikan kesembuhan.”

Lalu istrinya berkata: “Wahai Syaikh, engkau tidak tahu bagaimana kedudukanmu di tengah-tengah kami, kedudukanmu begitu besar di hati kami, kami berada di kamar bersebelahan dengan kamarmu ini, kami tidak rela keluar dari rumah sakit sebelum dirimu keluar dalam keadaan sehat.”

Ayahku pun berterima kasih kepada mereka berdua dan berkata: “Semoga Allah membimbing kalian menuju kebenaran.”

Lalu mereka mengamini doa beliau dan kamipun ikut mengamininya.

Setelah itu, masuk lagi seorang anak kecil berumur sekitar di bawah dua belas tahun bersama adiknya yang masih berumur sekitar tujuh tahun. Mereka mengucapkan salam kepada ayahku, mencium tangan dan kepada beliau.

Ayahku bertanya: “Siapa namamu?”

Ia menjawab: “Michael.”

Lalu ayahku tersenyum dan berterima kasih kepadanya.

Kemudian beliau bertanya kepada adiknya: “Namamu siapa?”

Ia menjawab: “Yoseph (Yusuf).”

Ayahku lalu mencandainya dan berkata: “Pantesan kamu ganteng, sebab Nabi Yusuf ‘alaihissalam dahulu memiliki ketampanan separuh ketampanan (yang ada dunia).”

Ketika mereka pergi, aku berkata kepada ayahku: “Semoga mereka mendapat hidayah.”

Beliau berkata: “Aamiiin.”

Sungguh, ayahku dahulu di sela-sela kehidupannya pernah memohon kepada Allah seraya berdoa: “Ya Allah, jadikanlah bagiku kecintaan di dalam hati para hamba-Mu.”

Dalam hal ini ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwasanya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikannya di terima di muka bumi,” kami berharap kepada Allah agar doa beliau dikabulkan, sebab kami melihat ada kecintaan kepada beliau pada hati orang yang sejalan dan yang berseberangan dengan beliau.

Ditulis oleh: Abu Yahya al-Huwaini (putra Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini)

Sumber: http://www.kulalsalafiyeen.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s