Keutamaan Qoilulah

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa qoilulah adalah sunnah. Apabila kita meneliti lebih mendalam, maka terdapat beberapa keutamaan sunnah qoilulah yang bersumber dari al-Qur’an, as-Sunnah, dan riwayat para sahabat Rasulullah. Maka itu, begitu penting bagi kita untuk mengetahui beberapa keutamaan tersebut. Pembahasan seputar hal ini dapat disimak pada beberapa poin berikut ini. Semoga bermanfaat.

  1. Adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Qoilulah merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang telah disampaikan pada tulisan sebelumnya bahwa beliau memerintahkan kita untuk melakukan qoilulah sebab setan tidak melakukannya. Orang yang melakukan qoilulah berarti ia telah menghidupkan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dalam hal ini kami katakan, beramal sedikit namun sesuai sunnah, tentu jauh lebih baik dari pada beramal banyak namun semuanya bid’ah.

Sepertinya sunnah ini adalah biasa –meskipun pada hakekatnya tidak ada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasa, semuanya adalah utama, tidak ada istilah kulit dan isi dalam agama-. Namun, jangan sekali-kali kita meremehkan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meremehkan sunnahnya berarti meremehkan agama. Menganggapnya tak bernilai, berarti mengganggap agama ini tak ada nilainya. Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang senantiasa menghidupkan sunnah Nabi-Nya.

  1. Merupakan istirahatnya penduduk surga

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلاَ

“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat qoilulahnya/istirahatnya.” (QS. al-Furqan: 24)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pada waktu dhuha, wali-wali Allah istirahat di atas ranjang tidur bersama bidadari.”

Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Allah selesai menghitung amalan manusia di pertengahan hari, lalu penghuni surga istirahat tengah hari di dalamnya.”

Ikrimah rahimahullah bertutur: “Sungguh, aku tahu kapan penghuni surga masuk ke dalam surga dan penghuni neraka masuk ke dalam neraka, yaitu seperti waktu di dunia ketika terangkatnya waktu dhuha akhir, tatkala orang-orang kembali kepada keluarga mereka untuk istirahat. Maka penghuni neraka kembali ke neraka. Adapun penghuni surga, maka mereka dipindahkan ke surga, dan tempat istirahat siang mereka adalah surga.”

Dalam menafsirkan firman Allah, “dan paling indah tempat qoilulahnya” Imam asy-Syaukani  rahimahullah berkata: “Yaitu tempat istirahat siangnya.”

Syaikh Abdurrahman bin nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Tempat tinggal mereka di surga dan istirahat mereka yang berupa istirahat siang, merupakan tempat tinggal bermanfaat dan istirahat yang sempurna, yang mana hal itu merupakan kesempurnaan nikmat yang tidak akan tercemari oleh kotoran.” (Periksa atsar-atsar tersebut di Tafsir Ibnu Katsir dan Fathul Qadir. Lihat juga Tafsir as-Sa’di,surat al-Furqan: 24)

Catatan

Qoilulah pada poin ini lebih sesuai jika diartikan dengan istirahat siang atau istirahat tengah hari, bukan diartikan dengan tidur siang. Sebab tidak ada tidur di dalam surga, dan penduduk surga tidak akan tidur di dalamnya.

Rasulullah rahimahullah bersabda:

النَّوْمُ أَخُوْ المْـَوْتِ وَلاَ يَنَامُ أَهْلُ الْـجَنَّةِ

“Tidur adalah saudaranya mati, dan penghuni surga tidaklah tidur.” (Lihat: ash-Shahihah, no. 1087)

Al-Azhari rahimahullah berkata: “Qoilulah atau Maqil menurut orang arab berarti istirahat di tengah hari, meskipun tidak dibarengi dengan tidur. Dalilnya adalah firman Allah, “dan paling indah tempat qoilulahnya“, sementara itu surga tidak ada tidur di dalamnya. (Faidhul Qadir, juz 4, hal. 694)

  1. Merupakan akhlak terpuji

Khowwat bin Jubair radhiyallahu ‘anhu berkata: Tidur di permulaan hari adalah kebodohan, di pertengahannya adalah akhlak (terpuji), dan di akhir hari merupakan perbuatan dungu.  (Hadis shahih. Lihat: Shahih al-Adabul Mufrad, no. 942)

Khowwat bin Jubair bin Nu’man bin Umayyah merupakan salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saudara kandung Abdullah bin Jubair radhiyallahu ‘anhu. Wafat di Madinah pada tahun 40 H dengan usia 74 tahun. (Siyar A’lamin Nubala’, juz 2, hal. 329-330)

  1. Merupakan kebiasaan generasi terbaik umat ini

Generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, mereka begitu antusias dalam mengamalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tidak kalah ketinggalan adalah sunnah qoilulah. Banyak dari mereka yang melakukan qoilulah, demi meneladani dan melaksanakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada tulisan selanjutnya yang berjudul Kisah Qoilulah Kaum Salaf, insyaAllah kami akan bawakan beberapa kisah tentang qoilulah para sahabat dan generasi setelahnya.

  1. Dapat membantu qiyamul lail dan lebih menyegarkan badan

Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah hafizhahullah berkata, setelah membawakan hadits tentang qoilulah: “Hadits tersebut mengandung perintah untuk mengerjakan qoilulah yang dapat menjadikan badan menjadi segar kembali, lebih kuat untuk mengerjakan ketaatan, dan dapat membantu melakukan qiyamul lail. Juga mengandung peringatan untuk menjauhi tipu daya setan. Wallahu A’lam. (Syarh Shahih al-Adabul Mufrad, juz 3, hal. 348)

Qoilulah sangat diharapkan untuk dikerjakan bagi orang yang hendak mengerjakan qiyamul lail dan begadang demi tujuan kebaikan. Sebab, yang demikian dapat membantu pelaksanaan shalat tahajjud, sebagaimana makan sahur dapat membantu pelaksanaan puasa di siang hari. (Faidhul Qadir, juz 4, hal. 694-695)

  1. Merupakan salah satu upaya untuk menyelisihi setan

Salah satu hadits yang menyatakan dengan jelas masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قِيْلُوْا، فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

“Tidur sianglah kalian, sebab setan itu tidak tidur siang.” (Hadis hasan. Lihat ash-Shahihah, no. 1647, Shahihul Jami’, no. 4431)

Hadits di atas menganjurkan kepada kita untuk melakukan tidur siang. Tujuannya agar kita tidak menyerupai setan yang tidak tidur di siang hari. Setiap muslim tentunya dituntut untuk menyelisihi setan dalam segala tindak-tanduknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَأْكُلُوْا بِالشِّمَالِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ

“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, sebab setan makan dengan tangan tersebut.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

لاَ يَأْكُلَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِشِمَالِهِ، وَلاَ يَشْرَبَنَّ بِهَا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِهَا

“Janganlah seorang dari kalian makan dan minum dengan tangan kiri, sebab setan makan dan minum dengan tangan kirinya.”

Nafi’ rahimahullah menambahkan: “Jangan pula ia menerima dan memberi dengan tangan itu.” (HR. Muslim, no. 2019, 2020)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum itu.” (Shahih. Lihat: Irwa’ul Ghalil, no. 1269, 2384)

Termasuk dalam hal ini, ber-tasyabbuh (menyerupai) perbuatan atau kebiasaan setan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Telah datang larangan untuk menyerupai setan, baik penampilan maupun perbuatannya, seperti makan dan minum dengan tangan kiri, sebab yang demikian termasuk perbuatan setan. Sementara itu kita dilarang untuk mengerjakan rutinitas apa saja yang termasuk perbuatan setan, karena sesungguhnya setan adalah tercela, baik secara agama maupun rasio. Dalam hal ini kami mengambil pelajaran dan merenungi, bahwa segala sesuatu yang menjadi sifat para pengekor setan dan orang sesat, dari kalangan orang-orang fasik, tukang maksiat, pelaku kriminal, mereka yang zhalim, munafik dan yang semisalnya, maka semua itu dilarang. Sebab mereka dihukumi sebagai pengekor setan. Sedangkan kita dilarang untuk mendekati jalan setan dan mengikuti perbuatannya. Maka wajib bagi setiap muslim yang komitmen dengan agamanya, untuk menjauhi segala sesuatu yang menjadi panji-panji mereka, para pengekor setan dan bala tentaranya. Harus lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan mereka. Menjauhi tempat-tempat berkumpulnya mereka. Sebab, tempat tersebut adalah gudang syubhat. Terlalu dekat dengannya, dapat menjadikan seorang muslim tercela.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim, juz 2, hal. 49)

Tulisan selanjutnya insyaAllah: Kisah Qoilulah Generasi Salaf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s