Sepuluh Sarana Istiqomah dan Teguh di Atas Agama Allah (seri 1)

20121027_140640

Tulisan ini merupakan untaian nasihat berharga yang disampaikan oleh seorang ulama kenamaan dari kota Madinah an-Nabawiyyah Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-Badr hafizhahullah dalam acara dauroh sehari bersama beliau yang diselenggarakan oleh STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya yang bertempat di asrama haji Surabaya pada tahun 14 Januari 2010 silam, yang diterjemahkan oleh kami sendiri Abu Musa al-Atsari, yang kami beri judul Sepuluh Sarana Istiqomah dan Teguh di Atas Agama Allah.

Nasihat ini disampaikan karena adanya seorang mahasiswa dari STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya meminta nasihat kepada beliau tentang sikap yang benar dalam menghadapi berbagai macam fitnah (godaan) yang begitu banyak sekali di zaman sekarang ini, kemudian Syaikh membuat kajian khusus yang berisi nasihat berharga ini.

Berikut isi nasihat Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-Badr hafizhahullah. Semoga bermanfaat.

Syaikh hafizhahullah berkata:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلَّى الله وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Ada sebuah pertanyaan yang sering ditanyakan, khususnya dari seorang yang ingin mendapatkan hidayah dan berpegang erat dengan agama Allah ta’ala. Sebuah pertanyaan yang banyak diutarakan oleh para pemuda yang Allah telah berikan ketentramkan dalam hatinya dengan hidayah dan Dia curahkan taufik-Nya kepada mereka dengan istiqomah. Terkadang, pertanyaan ini sering juga ditanyakan oleh selain mereka.

Baru saja, seusai pelaksanaan salat magrib, ada seorang pemuda yang menyampaikan pertanyaan tersebut kepadaku, bersamaan dengan aneka ragam fitnah dan macam-macamnya, faktor apa saja yang dapat membantu pemuda dapat teguh di atas istiqomah (di jalan Allah)? ia telah mengetahui istiqomah dan keutamaannya, sunah dan kedudukannya, kebaikan dan pengaruhnya yang penuh berkah. Tapi ia khawatir bila dirinya berpaling, hatinya menyimpang dan sesat dari jalan kebenaran.

Ia bertanya, “Bagaimanakah caranya agar diri ini dapat selalu teguh? Atau, Sarana apa saja yang dapat membantu untuk dapat teguh (di atas agama Allah)?”

Pertanyaan ini penting sekali dan sangat dibutuhkan oleh pemuda, dan para da’i kepada Allah ta’ala, hendaknya saling tolong-menolong untuk mengokohkannya, menunjukkan sarana-sarana dan faktor-faktor tersebut kepadanya.

Selanjutnya, pertanyaan ini dapat di jawab dengan beberapa poin berikut. Di antara sarana yang dapat membantu seorang hamba untuk istiqomah di atas agama Allah adalah:

PERTAMA: MEMPERBAIKI HATI (IKHLAS KEPADA ALLAH) & MEMPELAJARI AQIDAH YANG LURUS YANG BERSUMBER DARI AL-QUR`AN DAN AS-SUNNAH

Sebab barang siapa yang hatinya istiqomah, akidahnya lurus serta hubungan pribadinya dengan Allah ta’ala baik, maka ini adalah salah satu sarana agung yang dapat mendatangkan keteguhan dari Allah baginya. Allah ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahim: 27)

Dalam sebuah riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

Sesungguhnya seorang dari kalian ada yang mengerjakan amalan penghuni surga, hingga antara dirinya dan surga tinggal sehasta, tapi ia didahulu oleh al-kitab (keputusan) dan mengerjakan amalan penghuni neraka hingga ia masuk ke neraka. (HR. al-Bukhari & Muslim)

Pada beberapa riwayat sahih yang lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan:

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ

Sesungguhnya seorang dari kalian ada yang mengerjakan amalan penghuni surga di hadapan manusia. (HR. al-Bukhari & Muslim)

Ulama menyimpulkan sebuah faedah berharga dari hadis ini, bahwa sebab menyimpangnya seseorang pada akhir hayatnya adalah hatinya yang tidak baik, bahwa istiqomah yang ada padanya hanya pada pandangan manusia. Adapun batinya tidak baik dan tidak istiqomah. Oleh karenanya, bila hatinya baik, akidahnya lurus dan hubungan hatinya dengan Allah ta’ala juga baik, maka hal tersebut merupakan salah satu sebab teragung bagi dirinya untuk dapat teguh di atas agama Allah.

Dalam kitabnya al-Jawab al-Kafi yang lebih masyhur dengan nama ad-Daa` wa ad-Dawa`, Ibnul Qayyim membawakan sebuah riwayat dari Abdul Haq al-Isybili, bahwasanya ia menyatakan, belum pernah didapati orang yang lurus hatinya dan benar akidahnya menyimpang atau mendapatkan su`ul khatimah.

Kesimpulannya, hati yang baik dalam berakidah dengan keimanan yang benar, usaha keras untuk memperbaiki akidah dan memperkuat hubungan dengan Allah ta’ala, merupakan sebab yang dapat membantu hamba untuk teguh di atas istiqomah.

KEDUA: BERDOA KEPADA ALLAH

Doa merupakan kunci segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Allah ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Dan Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir: 60)

Allah juga berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. al-Baqarah: 186)

Di antara sarana yang dapat membantu keteguhan adalah berdoa, yakni hamba berdoa kepada Allah dan merengek-rengek kepada-Nya dengan doa itu, dan di antara doa yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Rabb Maha pembolak-balik, tetapkanlah hati ini di atas agama-Mu.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya: Wahai Rasulullah, apakah hati dapat berbolak-balik? Beliau menjawab:

مَا مِنْ قَلْبٍ إِلاَّ هُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهُ كَيْفَ يَشَاءُ

Tidaklah sebuah hati itu melainkan berada di antara dua jari dan jari-jemari (Allah) ar-Rahman, Dia membolak-balik hati itu sekehendak-Nya. (Hadis sahih, riwayat at-Tirmidzi, dll.)

Bila Allah berkehendak maka akan Dia luruskan atau Dia sesatkan. Di dalam al-Qur`an disebutkan sebuah doa:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia). (QS. Ali Imran: 8)

Jadi, bagi hamba yang ingin dan berharap dirinya dapat selalu teguh dan istiqomah di atas agama Allah, hendaklah ia memperbanyak doa. Khususnya doa agung di atas yang sering dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pintanya.

Selanjutnya, di antara doa mulia yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  setiap kali seorang muslim hendak keluar dari rumahnya adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

 Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak tersesat atau disesatkan, berbuat kesalahan atau disalahkan, menganiaya (orang lain) atau dianiaya, berbuat kebodohan atau dibodohi. (Hadis sahih, riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Sarana-sarana yang dapat menjerumuskan seseorang kepada kesesatan begitu banyak. Maka itu, ketika seorang muslim keluar rumah, ia diberi wejangan untuk membaca doa agung yang selalu diamalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila keluar rumah. Sebab, siapa yang keluar rumah, ia akan bertemu dengan banyak orang, dan manusia itu bermacam-macam; ada yang baik ada pula yang tidak baik, ada yang istiqomah ada pula yang rusak, bahkan yang suka merusak pun ada. Sehingga, bila ia keluar rumah dikhawatirkan akan terpengaruh dengan yang tidak baik. Apalagi sarana-sarana yang dapat menggoda dan membuatnya menyimpang begitu banyak dapat ia temui di jalan-jalan. Oleh karenanya, setiap kali ia akan keluar dari rumahnya hendaklah membaca doa tersebut.

KETIGA: TIDAK PANJANG ANGAN-ANGAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

Hidupkah engkau di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِالصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِالْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Bila tiba waktu petang jangan kau tunggu hingga esok pagi, dan bila tiba waktu pagi jangan kau tunggu hingga sore hari. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan (manfaatkanlah) masa hidupmu sebelum tiba masa matimu. (HR. al-Bukhari)

Inilah di antara sarana yang dapat membantu untuk tetap teguh. Yaitu tidak banyak berangan-angan dalam hidup ini. Dalam beramal saleh dan berbuat ketaatan, janganlah kau tunda waktu pagi hingga waktu sore. Bila hendak mengamalkan ketaatan, janganlah kau tunda hingga esok hari. Sebab engkau tidak tahu, apakah akan tetap hidup hingga esok hari atau tidak. Bila seseorang hendak bertaubat dari maksiat, ia tidak boleh menunda waktunya hingga esok hari. Karena ia tidak tahu, apakah esok hari masih ada atau tidak. Hal ini merupakan salah satu sarana teragung yang dapat membantu untuk tetap teguh.

KEEMPAT: MEMPELAJARI KEUTAMAAN ISTIQOMAH DAN TEGUH (DI ATAS JALAN ALLAH)

Sesungguhnya orang yang selalu teguh di atas jalan Allah yang lurus di dalam kehidupan ini, maka Allah akan meneguhkannya di atas jembatan yang terpancang di atas neraka Jahanam, dan Allah janjikan baginya kemenangan di surga dan keselamatan dari api neraka. Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran: 185)

KELIMA: MEMPERHATIKAN KANDUNGAN AL-QUR`AN

Al-Qur`an merupakan kitab hidayah (petunjuk), bahkan merupakan kitab paling agung untuk memperoleh hidayah dan tetap teguh di atas hidayah tersebut. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus (QS. al-Isra`: 9)

Allah juga berfirman:

وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ

Dan (al-Qur`an) merupakan penyembuh bagi penyakit (yang ada) dalam dada. (QS. Yunus: 57)

Dari ayat di atas dapat kita ketahui bahwa al-Qur`an adalah kitab hidayah. Maka itu, ketika seorang hamba memiliki hubungan erat dengan al-Qur`an; ia membacanya, mentadaburinya dan mengamalkan isinya, maka hal itu dapat memperkuat imannya, menambah keyakinannya dan mempererat hubungan dengan Rabb-nya azza wa jalla.

Allah azza wa jalla berfirman:

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيْمَانًا فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. (QS. at-Taubah: 124)

Firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ. الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ. أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. (QS. al-Anfal: 2)

 

Bersambung ke seri ke 2 insyaAllah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s